Overview National Program

Global

Overview National Program


PENGANTAR KURIKULUM STELLA MARIS SCHOOL BSD

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia terutama perkembangan sekolah-sekolah swasta merupakan tantangan bagi Stella Maris School untuk meningkatkan mutu. Dengan semakin berjamurnya sekolah-sekolah bertaraf National Plus dan sekolah internasional lainnya, Stella Maris School National Program harus dapat menunjukkan eksistensi dan kualitasnya serta keunikannya sebagai sekolah Nasional.

Oleh karenanya Stella Maris School menekankan konsep pendidikan yang maju dan dapat menjawab tantangan yang semakin kompleks tersebut dengan kurikulum Holistik Berbasis Karakter yaitu sebuah kurikulum terpadu yang memperhatikan semua aspek kebutuhan anak yang terintegrasi dan dapat merefleksikan dimensi intelektual, emosional, dan spiritual dengan pendekatan yang menarik dan kontekstual. Sistem pembelajaran holistik berbasis karakter adalah membentuk peserta didik memiliki pribadi yang utuh (holistik) yang berkarakter melalui pengembangan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual dan intelektual peserta didik secara optimal.

Stella Maris School menyelenggarakan kegiatan pendidikan dari tingkat KB/TK, SD, SMP, SMA dengan motto Educare in Caritatem (Mendidik Dengan Kasih) dan berlandaskan pada learner profile. Tujuan dengan diadakannya Learner Profile adalah:

  1. Membentuk pribadi yang beriman dan berkarakter kuat.
  2. Mengembangkan potensi peserta didik baik aspek intelektual, personal, emosional, spiritual maupun perkembangan sosial.
  3. Menumbuhkan profil utuh sebagai lifelong learner (pembelajar sejati).

 

Berdasarkan Learner Profile tersebut, maka Stella Maris School mengimplementasikan Dua Belas Butir Learner Profile untuk para peserta didik yang dikembangkan dalam Mata Pelajaran sebagai berikut:

1. Pengembangan Iman dan Karakter

Pengintegritasian nilai-nilai universal iman Kristiani dalam kehidupan nyata, diungkapkan dalam bentuk pengalaman iman, perayaan iman di sekolah, pencapaian prestasi, dan pengembangan diri untuk mempersiapkan masa depan. Pengembangan karakter yang kuar dan berkesinambungan sangat penting dalam membentuk pribadi yang utuh dan mantap. Oleh karena itu, Stella Maris School berupaya untuk mengembangkan berbagai kecerdasan jamak (Multiple Intelligence) yang dimiliki peserta didik, termasuk dalam pembentukan dan peneguhan karakter. Secara khusus, karakter yang akan dikembangkan ada 7 (tujuh) pilar, yaitu: Tanggung jawab (Responsibility), Disiplin Diri (Self-Discipline), Percaya Diri (Trustworthiness), Ketekunan (Perserverance), Rasa Kasih Sayang (Kindness), Toleransi (Tolerance), dan Rasa Kebangsaan (Citizenship). Pengembangan iman dan karakter peserta didik dilakukan melalui program pembelajaran, diantaraya melalui mata pelajaran Pendidikan Agama (Religion), Pendidikan Karakter, Pendidikan Kewarganegaraan (Moral), IPS (Social Studies), Bimbingan Konseling, dan Kegiatan Ekstrakurikuler.

 

2. Proses Pembelajaran Berbasis TIK

TIK menjadi media/sarana dalam mendukung proses pembelajaran pada semua mata pelajaran. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis. Oleh karena itu semangat dan isi kurikulum harus memberikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Agar proses pembelajaran dapat berlangsung interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, penggunaan pembelajaran E-Learning telah menjadi kebutuhan dasar di era global ini.

 

3. Scientific Approach

Pendekatan ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan sains ke dalam semua mata pelajaran. Peserta didik diharapkan mampu mengaplikasikan sains dalam kehidupan nyata melalui proses pembelajaran. Peserta didik diharapkan juga mampu membuat projek melalui integrated study (Project Based Learning). Dalam proses pembelajaran peserta didik dilatih untuk mengamati, bertanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan menciptakan sesuatu pada setiap mata pelajaran

 

4. Entrepreneurship

Melalui pembelajaran entrepreneurship, peseta didik diharapkan dapat mengembangkan jiwa kewirausahaan, mencipta, meningkatkan kreativitas dan memberikan dasar-dasar ilmu bagi peserta didik dalam bidang entrepreneurship sebagai bekal di masa depan. Jiwa kemandirian perlu ditanamkan agar peserta didik mampu berkompetitif dengan situasi global yang berkembang dengan sangat cepat. Nilai-nilai dunia kompetitif yang perlu ditanamkan: etika kerja (work ethics), motivasi pencapaian (achievement motivation), penguasaan (mastery), sikap berkompetisi (competitiveness), arti uang (money beliefs) dan sikap menabung (saving attitudes).

 

5. Life Skills

Life skills dikembangkan berdasarkan empat visi pendidikan menuju abad ke-21 versi UNESCO: Belajar Tahu (Learning To Know), Belajar Melakukan (Learning To Do), Belajar Hidup Bersama (Learning To Live Together), dan Belajar Menjadi Diri Sendiri (Learning To Be). Keempat visi pendidikan tersebut dapat disimpulkan menjadi “Belajar Bagaimana Belajar” (Learning To Learn). Unsur pertama dan kedua lebih terarah pada pembentukan “HAVING”, agar sumber daya manusia mempunyai kualitas dalam pengetahuan dan ketrampilan. Unsur ketiga terarah “BEING”, menuju pembentukan karakter bangsa. Melalui empat visi tersebut diharapkan peserta didik memiliki kompetensi yang memadai. Penanaman nilai-nilai kemandirian, kompetitif, dan dinamis sudah menjadi suatu keharusan untuk mencapai suatu kualitas.

 

KURIKULUM HOLISTIK BERBASIS KARAKTER

Dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip antara lain sebagai berikut:

1. Berpusat Pada Peserta Didik (Student Centered)

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut, pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered). Pembelajaran berpusat pada peserta didik (learner centered) menggeser peran pendidik dari pengajar (teacher) menjadi mitra pembelajar (fasilitator), pendamping dan motivator. Peserta didik terlibat aktif dalam membangun pengetahuan, sikap, dan perilaku sehingga memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning). Proses pembelajaran dirancang, dikonstruksi, dan dikondisikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik yaitu dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, prinsip-prinsip perkembangan, gaya belajar (visual, auditorial, dan kinestetik), menggunakan metode pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif peserta didik, sehingga berlangsung secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

 

2. Proses Pembelajaran Bermakna

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan serta menghargai perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial, ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal dan pengembangan diri secara terpadu serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substans

 

3. Menciptakan Lingkungan Pembelajaran Positif

Prakarsa belajar peserta didik akan tumbuh bilamana proses pembelajaran berlangsung dalam suasana aman, nyaman, dan menyenangkan. Perlunya lingkungan belajar yang bebas dan didasari oleh realness dari semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran. Lingkungan pembelajaran yang mendukung, tidak terkesan kaku dan formal akan dapat menumbuhkan gairah, motivasi, dan daya kreativitas. Upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang positif, dapat dilakukan sebagai berikut:

  • Pengaturan ruang kelas yang rapi, teratur, bersih dan indah
  • Pengaturan tempat duduk secara bervariasi berbentuk lingkaran, setengah lingkaran, huruf U, kelompok diskusi, moving class, dll
  • Pengaturan cahaya, temperatur yang cukup, dan sirkulasi udara yang baik
  • Warna tembok dan cat dinding yang menyejukkan
  • Adanya pot bunga dan tanaman hias yang menyegarkan
  • Adanya gambar/poster/slogan yang berisi kata-kata positif
  • Dalam proses pembelajaran terdapat jeda/waktu yang memungkinkan peserta didik melakukan relaksasi misalnya dengan senam otak (brain gym) dan musik latar (stimulasi musik)

 

4. Bersifat Holistik, Terintegrasi dan Berkesinambungan

Proses pembelajaran berlangsung secara alami, natural, nyata dan dekat dengan dunia peserta didik. Dengan pendekatan inkuiry, peserta didik terlibat dalam merencanakan dan melakukan eskplorasi berbagi terhadap suatu gagasan/ide-ide autentik dan alamiah. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan, dan mata pelajaran yang direncakanan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan

 

5. Menumbuhkan Pribadi Sebagai Pembelajar Sejati (Life Long Learner)

Paradigma pembelajaran tidak lagi belajar mengenai “tentang” (learning about thing) tetapi belajar mengenai “menjadi” (learning to be). Peserta didik sebagai pembelajar sejati (Life-long learner) memperoleh kesempatandan pengalaman dalam proses pencarian informasi, menyelesaikan suatu masalah, dan kemampuan membuat keputusan bagi kehidupannya sendiri. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, non formal dan in formal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yan selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

 

METODE PEMBELAJARAN

Proses pembelajaran di Stella Maris School menggunakan model Fun Learning dan Smart Learning. Model/pendekatan ini menekankan cara pengelolaan proses belajar yang disesuaikan dengan keadaan peserta didik. Keadaan dan kebutuhan peserta didik yang dimaksudkan adalah cara otak (kiri dan kanan) dalam memproses suatu informasi menjadi pengetahuan. Dengan demikian peserta didik dapat lebih mudah menyerap informasi dan memperoleh pengetahuan. Melalui pendekatan tersebut, dapat menumbuhkan motivasi belajar dan membangkitkan kegembiraan belajar. Agar proses pembelajaran lebih bermakna bagi peserta didik, guru senantiasa memperhatikan gaya belajar setiap individu dengan memanfaatkan indera penglihatan (visual), pendengaran (auditif) dan gerakan (kinestetik) sebagai jalur informasi/stimulasi ke otak.

 

KELULUSAN DARI SATUAN PENDIDIKAN

Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan melalui rapat dewan guru setelah:

a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran

b. Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran:

       1. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia

       2. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian

       3. Kelompok mata pelajaran estetika

       4. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan

c. Lulus Ujian Sekolah (US) untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi

d. Lulus Ujian Nasional (UN)




Inspiration Quotes

Knowing is not enough; we must apply.
Willing is not enough; we must do
Johann Wolfgang von Gouthes
Bible Quotes

Knowing is not enough; we must apply.
Willing is not enough; we must do
Johann Wolfgang von Gouthes