3 Tips untuk Membantu Putra-Putri Anda  Mengungkapkan (Mengekspresikan) Perasaan Mereka

3 Tips untuk Membantu Putra-Putri Anda Mengungkapkan (Mengekspresikan) Perasaan Mereka

Anda pasti pernah melihat putra-putri Anda merasa begitu kesal terhadap sesuatu. Luapan emosi seperti itu adalah wajar. Agar ungkapan emosi tersebut tidak merugikan buah hati Anda, maka bantu perkembangan emosional anak Anda – mengatasi “kehancuran” perasaannya – dengan cara yang tepat. Jika si Kecil sering menutup diri atau memprotes ketika Anda bertanya ada apa, cobalah strategi alternatif ini, paling cocok untuk anak-anak berusia 5 tahun ke atas:

  • Hadir di dekat mereka dan bersikap tenang

Bagi anak-anak yang memiliki kecenderungan perfeksionis atau berjiwa mandiri, mengatakan kepadanya kalimat-kalimat seperti, “Kamu terlihat sangat kesal” atau “Saya lihat kamu sangat kesal, tapi itu tidak apa-apa” di saat mereka mengalami tantrum sebenarnya memicu perasaan negatif dan rasa malu. Anda cukup hadir di dekatnya dan tetap tenang untuk memvalidasi dan tetap terhubung dengan putra-putri Anda. Anda bisa mulai dengan menarik napas dalam-dalam dan mengulangi mantra diam, seperti “Tidak ada yang salah dengan saya. Tidak ada yang salah dengan anak saya. Saya bisa mengatasi ini. ” Saat Anda berbicara dengan anak Anda selama krisis, tetap gunakan frasa bebas perasaan. Cobalah kalimat: “Aku di sini bersamamu.” Saat Anda berfokus pada aturan yang Anda buat sendiri dan hadir untuk anak Anda, mereka akan belajar bahwa perasaan mereka tidak terlalu menakutkan.

 

  • Jelaskan dengan perumpamaan

Cara ini bisa dilakukan untuk berkomunikasi dengan anak Anda tanpa melakukan percakapan langsung tentang mereka. Di saat-saat hening, Anda bisa berkata: “Pernahkah Kamu berpikir bahwa perasaan bekerja seperti sebuah lift? Bayangkan ada seseorang di lobi. Ia bergerak ke atas ke lantai dua, lalu empat, dan kemudian ia harus menuju lantai paling atas sebelum ia perlahan-lahan turun kembali. Sebagian tubuh orang bekerja seperti itu. ” Jangan berkecil hati jika buah hati Anda tidak mengatakan apa-apa sebagai balasannya. Teruskan dan percayalah bahwa mereka telah mencatat upaya Anda untuk memahami dan menjalin relasi dengan mereka.

 

  • Buat menjadi sebuah permainan

Untuk membantu anak Anda memahami emosi mereka sendiri, cobalah permainan rating game. Setelah anak Anda tenang, katakan, “Saya akan bertanya tentang sesuatu yang telah terjadi. Jika dirasa sudah pas, beri saya acungan jempol. Jika bingung, beri saya jempol ke samping. Jika semuanya salah, jempol ke bawah. ” Mulailah dengan interpretasi yang akan mengundang tawa dan jempol ke bawah. (“Saat kita bermain sepak bola, Kamu kesal karena alien datang dan mencuri bola kita!”) Setelah tertawa, katakan: “Atau karena Kamu ingin mencetak gol dan menjadi frustrasi padahal Kamu tidak melakukannya”. Saat anak Anda mengacungkan jempol, jangan bereksplorasi lebih jauh. Anda dapat memvalidasi dengan, “Saya mengerti.” Lalu tanyakan, “Apakah Kamu ingin saya terus melanjutkan permainan? Beri saya gerakan jempol untuk memberi tahu saya.”

 

Sumber: Parents.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *