7 Cara Menghindarkan Anak-Anak dari Kecanduan Gadget

7 Cara Menghindarkan Anak-Anak dari Kecanduan Gadget

Rata-rata waktu penggunaan smartphone (gadget) meningkat 25% menjadi hampir tujuh jam sehari dikarenakan sebagian besar orang bergantung pada gadget untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan mencari hiburan di tengah pandemi. Angka tersebut terungkap berdasarkan hasil riset di India. Bagaimana dengan di Indonesia? Belum ada riset yang dipublikasikan mengenai hal tersebut, namun boleh jadi angkanya kurang lebih sama. Artinya hampir sepertiga waktu kita setiap hari tidak bisa dilepaskan dari gadget.  Harus kita akui banyak aktivitas penting yang sangat terbantu dengan kehadiran benda tersebut.

Produk teknologi kerap kali memunculkan dua sisi. Di satu sisi sangat berguna dalam menunjang kehidupan sehari-hari, namun di sisi lain ada dampak negatif yang mengintip di balik itu jika penggunaannya tidak tepat. Situasi semacam ini yang sekarang kerap dihadapi para orang tua. Mulai dari speech delay, attention deficit, kesehatan otot mata dan lensa mata, menjadi korban kejahatan dunia maya, hingga berkurangnya waktu untuk melakukan hal-hal lain di luar gadget adalah sebagian dari dampak negatif yang timbul. Sehingga peran orang tua sangat diperlukan saat bagaimana memaksimalkan penggunaan gadget untuk anak dan di saat yang bersamaan menghindarkan mereka dari kecanduan gadget.

Irene Phiter, seorang Parents Coach, Certified Play Therapist, dan Master Trainer-Brainfit Indonesia dalam sebuah webinar bersama Stella Maris School dengan topik: ‘Gadget Wise, How to Avoid Our Kids from Being Addicted to Gadget’ yang digelar Sabtu (20/02/2021), memberikan beberapa tips atau strategi yang bisa diterapkan oleh orang tua agar penggunaan gadget tidak memberikan dampak negatif:

  1. Perbanyak waktu berinteraksi langsung tanpa gadget

Sejatinya sekuat apapun kemampuan teknologi, tidak akan pernah bisa menggantikan interaksi tatap muka, karena lebih memenuhi perasaan hati. Otak manusia pada dasarnya merupakan otak sosial (our brain is social brain). Dengan mengajak anak bermain bersama atau ngobrol ringan misalnya, akan membangun kedekatan emosional yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

  1. Bekali anak keterampilan berinternet secara aman dan cerdas

Sebelum mengizinkan anak untuk berinternet, orang tua perlu memberikan pemahaman secara utuh sekaligus melindungi mereka dari risiko dan dampak negatif dunia online (internet). Ibarat melepas anak ke lautan yang maha luas (baca: internet), maka mereka harus dibekali dengan kemampuan berenang, menyelam, bertahan hidup, dsb.

  1. Orang tua harus bisa memegang kendali

Mengeksplorasi dan bermain bersama anak dengan menggunakan gadget adalah pilihan terbaik bagi orang tua. Dengan melibatkan diri secara langsung orang tua akan bisa mengendalikan apa yang boleh dimainkan (cocok dengan usia) serta berapa lama boleh memainkan. Dan di sela-sela itu manfaatkan untuk melakukan aktivitas lain seperti bermain sepeda di luar rumah, bermain lego, sekadar tidur siang, dll.

  1. Optimalkan stimulasi lewat permainan sensori

Permainan sensori didasarkan pada konsep belajar sambil bermain. Mengaktifkan satu atau lebih panca indera memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak, sehingga tidak melulu berinteraksi dengan gadget. Menekankan pada rangsangan indera pengelihatan, indera peraba atau sentuhan, suara, bau dan gerakan. Menurut Maria Montessori, anak adalah sensorial explorer yang secara naluriah belajar tentang lingkungan sekitarnya melalui panca inderanya.

  1. Membangun voluntary attention

Alihkan perhatian anak pada hal-hal yang interaktif dan mengurangi aktivitas yang pasif (contoh: hanya menonton). Karena otak akan merespons semua input yang masuk. Kegiatan interaktif akan menjadi stimulasi yang baik bagi perkembangan otak anak.

  1. Memilihkan aplikasi (game) yang tepat

Orang tua harus aktif mengambil peran untuk memilihkan permainan yang bisa memberikan stimulasi pada otak anak. Contohnya aplikasi NG Kids atau permainan hidden objects. Kemampuan seperti visual attention atau visual details bisa terbangun dengan permainan tersebut.

  1. Penting untuk anak remaja memahami digital footprint (jejak digital)

Membatasi menyebarkan informasi pribadi di media sosial, serta belajar untuk lebih bijak dan mengetahui dampak yang akan ditimbulkan dari hasil memposting sesuatu perlu ditekankan pada anak remaja. Kesadaran ini penting agar mereka bisa terlindungi dari berbagai kejahatan dunia maya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *