Apakah Buah Hati Anda Cenderung Tertutup? Coba Lakukan Hal-Hal Ini agar Bisa Lebih Terbuka

Apakah Buah Hati Anda Cenderung Tertutup? Coba Lakukan Hal-Hal Ini agar Bisa Lebih Terbuka

Bagi sebagian orang tua, salah satu tantangan yang kerap dihadapi adalah bagaimana agar buah hati tercinta bisa berkomunikasi secara terbuka dengan mereka. Ya betul, tidak semua anak bisa terbuka dengan orang tuanya. Apa yang mereka alami atau terjadi di luar rumah belum tentu dengan mudah diceritakan kepada orang tua. Berselisih pendapat dengan teman di sekolah atau lingkungan rumah, dimarahi guru, jadi korban bullying, dan lain sebagainya boleh jadi tidak langsung disampaikan pada orang tua.

Pada dasarnya keterbukaan anak pada orang tua merupakan hal yang amat penting. Perkembangan dan kondisi anak akan bisa diketahui dan dipantau jika anak mau terbuka pada orang tua. Tanpa keterbukaan, akan terjadi kesenjangan informasi-informasi berharga dan hubungan emosional menjadi renggang sehingga dikhawatirkan anak akan kehilangan arah atau melakukan hal-hal negatif saat jauh dari orang tua.

Dr. Ron Taffel, Ph.D., pakar pengasuhan dan penulis buku “Nurturing Good Children Now” memberikan beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membuat anak lebih terbuka dan terlibat percakapan aktif:

  1. Bercakap-cakap di sela berbagai aktivitas

Apakah Anda merasa sulit membuat anak Anda mau bercerita? Barangkali karena ia merasa kurang nyaman mendapat pertanyaan dari Anda yang terkesan formal dan sangat kaku. Anda berpikir bahwa berbincang dengan anak adalah hal yang sangat serius sehingga harus dilakukan dengan cara saling menatap mata. Orang tua mungkin berdalih saat menatap mata anaknya, mereka bisa mendapati apakah anaknya jujur atau berbohong.

Padahal, Anda perlu tahu bahwa beberapa orang merasa terintimidasi dengan perbincangan saling tatap mata. Mengobrol di sela kegiatan seperti saat Anda sedang menyetir ketika mengantar ke sekolah, saat sedang melakukan hobi bersama, atau saat sedang makan bisa membuat suasana lebih cair. Anak-anak pun jadi lebih leluasa bercerita pada Anda.

  1. Memahami kebiasaan komunikasi anak

Kunci keterbukaan adalah tidak mengubah apa yang tidak bisa diubah. Ya, anak-anak memiliki kebiasaan komunikasi yang bisa dikatakan sulit diubah. Bila anak Anda adalah tipe anak yang aktif berbicara di pagi hari, maka manfaatkan kesempatan emas ini untuk berbicara dengannya. Namun, jangan lakukan bila anak Anda adalah seorang yang sangat mudah kacau konsentrasinya bersiap-siap di pagi hari. Mengajaknya mengobrol hanya akan merusak mood-nya.

Anda juga perlu tahu kebiasaan anak menjawab pertanyaan. Ada anak yang membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum menjawab. Ketika dia diam, bukan berarti dia tidak mau terbuka. Maka jangan dicecar dan beri ia waktu. Bila anak Anda adalah seseorang yang sangat serius sebelum semua pekerjaannya selesai, cobalah untuk mengajaknya bicara sebelum ia tidur saat semua tugas sudah ia rampungkan.

  1. Menunjukkan ketertarikan dari awal sampai akhir

Saat ia bercerita, selalu fokus pada ceritanya dari awal sampai akhir. Setelah selesai, beri pertanyaan seperti, “Terus gimana?” “Apa yang terjadi selanjutnya?” atau “Siapa akhirnya yang bisa melakukannya?” sebagai pertanda bahwa Anda tertarik dengan ceritanya. Ini membantuk anak merasa didengarkan dan tertarik untuk bercerita lagi pada Anda di lain waktu.

 

  1. Memberikan respons yang emosional (tulus dan nyata)

Tanggapi anak Anda dengan emosi yang nyata. Anda bisa melakukan gerakan seperti menganggukkan kepala, mengernyitkan dahi, merenung, atau menyebut kembali emosinya untuk memvalidasi perasaannya. Mereka akan suka bila mendapat respons seperti, “Hmm, Papa/Mama tahu kamu pasti kesal sekali, ya?’’. Puji juga mereka atas hal baik yang mereka lakukan seperti, “Wah, kamu mengatakan itu untuk membela temanmu yang diusili kakak kelas? Papa/Mama tersentuh sekali dengan kalimatmu.” Ketika anak-anak merasa perasaannya bisa dipahami, akan lebih mudah bagi mereka untuk terbuka.

  1. Mulailah dari diri Anda

Untuk membuat anak-anak terbuka, tak harus dimulai dengan memberi mereka pertanyaan untuk dijawab. Anda bisa menceritakan tentang hari Anda terlebih dahulu. Ceritakan saja bahwa hari ini bos Anda memarahi Anda dan Anda bertengkar dengan rekan Anda. Itu mungkin terdengar sebagai sesuatu yang negatif. Namun, orang tua juga punya masalah dan tak selalu sempurna. Justru, itu akan membuat anak lebih yakin untuk terbuka. Mereka akan menceritakan hari mereka juga seperti bertengkar dengan teman dan masalah lainnya.

Nah, bagaimana? Apakah Anda sudah siap menjalin komunikasi yang lebih terbuka dengan buah hati Anda? Kalau tidak dari sekarang kapan lagi?

Sumber: Ayahbunda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *