DBD Masih Mengintai, Jangan Lengah!

DBD Masih Mengintai, Jangan Lengah!

Pandemi Covid-19 yang sudah berjalan hampir dua tahun ini menjadi prioritas semua orang dan segala cara pencegahan pun dilakukan. Namun, jangan lengah terhadap satu wabah yang sudah ada sejak dulu, Demam Berdarah Dengue atau DBD.

Berbeda dengan Covid-19, DBD akan selalu mengintai masyarakat kapan pun. Apalagi kondisi Indonesia yang merupakan negara tropis dengan dua musim, panas dan hujan, adalah habitat alami dari nyamuk. Seperti yang sudah diketahui, DBD disebabkan oleh virus dengue, yang dapat menular antar manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.

 

Buat orang Indonesia, digigit nyamuk adalah hal yang biasa, karena memang kita biasa hidup berdampingan dengan serangga tersebut. Apalagi buat yang senang berkebun, sudah pasti menjadi hal yang rutin berhadapan dengan nyamuk. Bentol merah gatal, dioleh balsam atau minyak kayu putih, beres.

 

Tapi bagaimana jika selang 4-6 hari kemudian muncul gejala-gejala berikut: demam tinggi di atas 38 derajat Celcius, timbul bintik-bintik merah di kulit, sakit kepala, badan lemah dan lesu, muntah, dan gejala lainnya. Hati-hati bisa jadi itu Demam Berdarah Dengue.

 

Yuk, tetap waspada dengan ancaman wabah DBD, selain tetap menjaga protokol kesehatan untuk mengurangi penularan Covid-19. Lakukan 5 hal berikut:

 

  1. Cegah genangan air di sekitar rumah.

Nyamuk aedes aegypti gemar berkembang biak di air bersih dan genangan. Pastikan tidak ada genangan air seperti di balik ember atau tempayan atau tempat yang mudah air menggenang. Pastikan aliran air di rumah lancar, bila perlu pasang jebakan nyamuk di lubang selokan. Jangan lupa ganti air vas bunga setiap dua hari dan gosok bagian dalam vas sampai bersih.

 

  1. Pasang kasa nyamuk di lubang jendela dan pintu.

Selain menggunakan kelambu atau perangkap nyamuk, cara mencegah gigitan demam berdarah juga bisa dengan memasang kasa. Pasang kasa di lubang angin, pintu, dan jendela yang rentan menjadi pintu masuknya nyamuk demam berdarah.

 

  1. Gunakan obat nyamuk yang aman.

Jika menggunakan obat nyamuk yang mengandung diethyltoluamide (DEET), pilih yang kadarnya 10%. Demi keamanan, hindari obat nyamuk yang mengandung kadar DEET tinggi di atas 30% karena bisa merusak saraf dan memicu kanker. Ingat, obat nyamuk dengan bahan aktif ini tidak aman untuk anak-anak.

 

  1. Pilih pakaian yang aman dari gigitan nyamuk

Melansir Medical News Today, pilih pakaian yang aman dari gigitan nyamuk. Sebisa mungkin, minimalkan bagian kulit yang rentan digigit nyamuk. Caranya dengan menggunakan celana panjang, pakaian lengan panjang, serta kaus kaki.

 

  1. Rutin melakukan fogging di lingkungan sekitar

Fogging adalah penyemprotan insektisida untuk membunuh nyamuk. Cara ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyakit yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk, misalnya demam berdarah atau malaria. Untuk memberantas keberadaan nyamuk-nyamuk jahat yang dapat terus menghantui warga, perlu dilakukan aksi fogging setidaknya di tingkat RT/RW.

Seperti yang dilakukan oleh Stella Maris, dalam program STEMA PEDULI, pada 4 September 2021 lalu. Tim Stella Maris School melakukan fogging di beberapa lokasi sekitar BSD dan Gading Serpong, tepatnya di Rawa Buntu dan Mekar Jaya di BSD, dan Sektor 8A Kelapa Dua Gading Serpong.

(AR)

 

Informasi dan pendaftaran sekolah Stella Maris School, Hubungi :

Whatsapp : 081389535377
Instagram : @stellamaris.sch
Email : info@stella-maris.sch.id
Video Kegiatan Siswa : Youtube Stella Maris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *