Guru Penggerak :  Upaya Mewujudkan Transformasi Pendidikan

Guru Penggerak : Upaya Mewujudkan Transformasi Pendidikan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim baru-baru ini menyatakan reformasi pendidikan harus berawal dan berakhir di guru. Hal itu dikatakan Mendikbud pada saat peluncuran secara virtual Merdeka Belajar Episode 5: Guru Penggerak. Lalu apa yang dimaksud dengan guru penggerak? Bagaimana implementasinya?

Guru adalah komponen penting dunia pendidikan. Kualitas pendidikan salah satunya diukur dari guru yang kompeten, di samping infrastruktur sekolah yang memadai. Kecakapan seorang guru mengarahkan siswa mengembangkan minat dan bakat sambil memahami berbagai jalan keluar masalah sosial adalah kunci, bukan hanya mengajar dan terpaku pada kurikulum. Secara garis besar, guru penggerak bukan lagi sekadar sebagai guru yang baik dan berkualitas, namun lebih dari itu merupakan sosok yang memiliki kemauan untuk berinovasi melakukan perubahan dalam pendidikan. Seseorang yang mampu memimpin perubahan dalam ekosistem pendidikan. 

Program guru penggerak dirancang dengan menitikberatkan pada kualitas pelatihan dan pendampingan. Tujuannya agar peningkatan kompetensi guru dan kepala sekolah mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang berdaya dan berkomitmen dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Iwan Syahril mengatakan program (pelatihan) tersebut bertujuan mendorong guru-guru yang sudah memiliki kemampuan untuk memahami pembelajaran yang berorientasi pada siswa. Harapannya guru ini akan menjadi pemimpin pendidikan.

Untuk menjadi guru penggerak, harus mengikuti tahapan yang telah ditetapkan, yaitu seleksi calon guru penggerak. Peserta yang lolos seleksi nantinya akan mengikuti serangkaian pelatihan selama sembilan bulan yang meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan. Namun selama program, guru tetap menjalankan tugas mengajarnya sebagai guru. Peserta juga akan mempelajari bagaimana menciptakan pembelajaran yang berpihak pada siswa, termasuk cara membangun budaya positif di sekolah. Kriteria seleksi yang akan menjadi penilaian adalah penerapan pembelajaran yang berpusat pada siswa, memiliki kemampuan fokus pada tujuan, memiliki kompetensi menggerakkan orang dan kelompok, memiliki daya juang yang tinggi, memiliki kompetensi kepemimpinan dan bertindak mandiri memiliki kemampuan untuk belajar hal baru, terbuka pada umpan balik, dan terus memperbaiki diri, memiliki kemampuan berkomunikasi dengan efektif dan memiliki pengalaman mengembangkan orang lain, dan memiliki kedewasaan emosi dan berperilaku sesuai kode etik. Dengan adanya guru penggerak, 5-7 tahun ke depan diharapkan kualitas pembelajaran dan sumber daya manusia akan meningkat.

Menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi guru di Sekolah Stella Maris agar bisa menjadi guru penggerak. Namun tempaan dan berbagai langkah pembinaan yang selama ini dijalankan oleh Sekolah Stella Maris menjadi fondasi yang kuat untuk mengembangkan serta meningkatkan kompetensi guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *