KENALI DAN PAHAMI DAMPAK HELICOPTER PARENTING TERHADAP BUAH HATI ANDA

KENALI DAN PAHAMI DAMPAK HELICOPTER PARENTING TERHADAP BUAH HATI ANDA

Beda keluarga, beda pola asuh. Ini karena penerapan pola asuh biasanya dipengaruhi oleh banyak hal. Mulai dari karakter anak, karakter orang tua, hingga pengalaman orang tua. Tapi apapun itu, sebelum menentukan pola asuh, orang tua perlu mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan pola asuh yang ingin diterapkan pada anak. Sebab tanpa disadari, pola asuh akan memengaruhi kepribadian dan karakter anak di masa mendatang. Salah satu pola asuh yang sering kita dengar adalah helicopter parenting. Lalu seperti apakah pola asuh tersebut? Apa dampaknya terhadap anak? Yuk kita simak penjelasan berikut ini!

Apa itu helicopter parenting?
Helicopter parenting adalah pola asuh yang identik dengan perilaku melindungi anak secara berlebihan. Ini disebutkan oleh Ann Dunnewold Ph. D, seorang psikolog dan penulis buku berjudul Even June Cleaver Would Forget the Juice Box. Secara lebih rinci, ia menyebutkan bahwa helicopter parenting adalah usaha orang tua untuk selalu terlibat dalam kehidupan anak yang cenderung mengarah ke sikap overcontrolling, overprotecting, dan overperfecting.
Ada beberapa faktor yang memicu orang tua menerapkan helicopter parenting. Mulai dari ketidaksiapan orang tua untuk menerima konsekuensi atas keputusan anak (misalkan tidak diterima sekolah favorit atau pekerjaan), perasaan khawatir dengan kehidupan anak, pengalaman negatif orang tua di masa lalu, dan tekanan dari rekan sesama orang tua. Tentunya, pola asuh seperti ini akan memberikan konsekuensi pada kehidupan anak. Apa saja?

1. Kurangnya Rasa Percaya Diri
Perasaan ini muncul karena orang tua terlalu ikut serta dalam menentukan kehidupan anak. Termasuk apa yang dilakukannya hari ini dan esok hari. Anak “dipaksa” untuk mengikuti apa yang orang tuanya kehendaki hanya karena mereka takut anaknya mengalami kegagalan. Sehingga jika suatu saat anaknya dihadapkan pada suatu keputusan, ia akan ragu dan bertanya-tanya, “apakah aku mampu?”, “apakah ibu/ayah akan setuju?”, dan pertanyaan lain yang muncul karena kurangnya rasa percaya diri.

2. Kurangnya Kemampuan Koping
Koping adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah, adaptasi dengan perubahan, dan respon terhadap situasi yang buruk. Kurangnya kemampuan koping ini mungkin terjadi pada anak yang diasuh dengan helicopter parenting. Pola asuh tersebut memungkinkan orang tua untuk ikut serta dalam penyelesaian masalah yang dihadapi anak. Sehingga anak cenderung cemas dan khawatir ketika harus menghadapi situasi tak terduga seorang diri. Studi yang dilakukan oleh University of Mary Washington telah membuktikan bahwa pola asuh berlebihan meningkatkan risiko anak untuk mengalami kecemasan dan depresi.

3. Keterampilan Hidup Kurang Terasah
Kehidupan itu dinamis. Sebaik apapun rencana seseorang, selalu ada kemungkinan tak terduga yang mungkin terjadi seperti kegagalan dan situasi buruk lainnya. Itu mengapa kebanyakan orang tua mendidik anaknya untuk menjadi mandiri. Sayangnya, hal ini berbeda dengan orang tua yang menerapkan helicopter parenting. Orang tua dengan pola asuh tersebut tidak akan membiarkan anaknya melakukan apapun seorang diri. Alhasil, anaknya menjadi tidak terbiasa untuk melakukan apapun seorang diri dan membuat keterampilan hidupnya kurang terasah.
Kebanyakan orang tua memang ingin anaknya selalu bahagia. Tapi tidak ada salahnya membiarkan anak berjuang menghadapi kegagalan, kekecewaan, dan situasi buruk lainnya. Justru dengan adanya situasi buruk, anak akan beradaptasi dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. Jadi, alih-alih ingin melakukan yang terbaik untuk anak, jangan sampai pola asuh yang Anda terapkan membuat anak tidak bisa menjalani kehidupannya seorang diri.

Dari berbagai sumber.
Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *