KENALI GENERASI ALFA DAN TIPS MENGHADAPINYA

KENALI GENERASI ALFA DAN TIPS MENGHADAPINYA

Generasi Alfa atau yang biasa disebut Gen-A adalah generasi selepas X, Y dan Z. Walaupun secara definisi Generasi Y, Z, dan Alfa sama-sama dikenal sebagai generasi digital native (lahir dan besar di era internet), namun masing-masing generasi tersebut kenal dengan internet pada tingkat umur yang berbeda. Generasi Y sebagai generasi digital native pertama mengenal internet di masa remaja dan dewasa awal, sedangkan generasi Z adalah mereka yang mengenal internet di masa kanak-kanak. Kemudian generasi Y dan Z inilah yang melahirkan generasi Alfa, dimana sejak lahir mereka sudah hidup di dunia dengan perkembangan teknologi yang pesat. Generasi Alfa adalah generasi yang lahir setelah tahun 2010 dengan usia paling tua adalah anak-anak usia 8 tahun.

Ada beberapa ciri khas yang perlu Anda ketahui tentang generasi ini:

Terbiasa dengan teknologi

Generasi Alfa lahir pada saat teknologi sudah canggih dan sudah merupakan hal yang biasa. Karena itu, sejak masih bayi pun mereka sudah akrab gadget seperti smartphone, tablet, atau laptop.

Sayangnya saat ini Generasi Alfa menjadikan benda-benda yang memiliki layar seperti gadget dan televisi sebagai ‘pengasuh’nya, karena kerapkali orang tua memberikan anaknya gadget dengan alasan agar anaknya tidak rewel dan anteng.

“Yang ideal adalah kita tetap menemani. Karena pasti ada kok positifnya (dari gadget) asal ditemani. Tapi banyak juga yang masih bablas dengan alasan yang penting gampang,” demikian menurut Binky Paramitha, Psikolog Pendidikan.

Memiliki kecerdasan tinggi

Generasi Alfa juga diramalkan akan memiliki kecerdasan tinggi melampaui generasi-generasi sebelumnya. Selain karena kemudahan mengakses informasi, orang tua dari Generasi Alfa juga sudah lebih melek mengenai gizi dan sudah memberikan nutrisi yang terbaik anaknya bahkan sejak mereka masih di dalam kandungan.

Perilaku bermain yang berubah

Munculnya permainan-permainan canggih yang menarik untuk anak-anak Generasi Alfa pun turut membuat pola perilaku bermain berubah. Bila anak Milenial masih memiliki banyak kesempatan untuk bermain ke luar rumah, maka anak Generasi Alfa lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.

“Alasannya banyak banget, pertama lingkungannya tidak mendukung, keamanan. Kalau zaman dulu kan masih bisa bebas main sepeda, taman bermainnya semakin minim. Kemudian kalau anak sudah mulai sekolah, jam sekolah anak-anak zaman sekarang kan sampai siang, sorenya les dulu, pulang, capek, masih ada tugas lagi,” kata Binky.

 Jauh dari buku dan majalah

Buku dan majalah fisik kini mulai tergantikan dengan buku elektronik atau e-book. Bahkan buku pengantar di sekolah pun kini bisa diunggah dan dimaskkan ke dalam gadget sehingga anak tidak perlu lagi membaca buku fisik.

Menciptakan teknologi sendiri

Bukan hanya menjadi pengguna, anak-anak Generasi Alfa juga menciptakan teknologi. Anda mungkin sudah pernah mendengar kelas-kelas belajar koding untuk anak. Dengan memiliki kemampuan koding, anak bukan hanya menggunakan aplikasi yang sudah ada namun juga bisa menciptakan atau memodifikasi aplikasi yang mereka gunakan.

Tips Menghadapi Anak Generasi Alfa

Salah satu tantangan yang akan dihadapi oleh orang tua dari anak-anak Generasi Alfa adalah anak-anak mereka akan lebih senang sesuatu yang cepat dan instan. Saat ia merusak barang yang ia miliki, seperti mainan misalnya, Generasi Alfa cenderung lebih memilih untuk membeli mainan baru daripada memperbaikinya. Hal ini juga akan berpengaruh pada kemampuannya menyelesaikan masalah.

“Jadi kalau misalnya ada yang enggak benar sedikit, entah pada dirinya atau hubungan dia dengan orang lain dia tidak menyelesaikan masalah.” kata Binky.

Interaksi sosial pun akan semakin berkurang karena mereka lebih jarang keluar rumah dan lebih senang berinteraksi dengan teknologi. Akhirnya, norma-norma sosial pun bisa bergeser.

Untuk menghadapi anak Generasi Alfa, Binky menyarankan hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami kebutuhan anak termasuk untuk tumbuh kembangnya.

Kedua, orang tua harus menyadari potensi-potensi anak serta memahami kekurangan serta kelebihannya sehingga orang tua sudah bisa memberikan pencegahan bila ia memiliki potensi yang mengarah pada sesuatu yang negatif.

Ketiga, bermain bersama anak. Tujuannya adalah untuk membina hubungan baik dengan anak sehingga anak percaya pada orang tua.

Keempat, ajarkan kemampuan sosial, termasuk empati, memahami perasaan orang lain, juga membina hubungan dengan orang lain. Orang tua bisa menjadi jembatan bagi anak untuk membangun kemampuan sosialnya, misanya saja saat anak masih malu-malu untuk berkenalan dengan teman baru, maka orang tua bisa membantu anak untuk memperkenalkan dirinya

 

Sumber: kompas.com, kumparan.com

Foto: pixabay.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *