Latih Anak Anda Mengatasi Perasaan Bosan

Latih Anak Anda Mengatasi Perasaan Bosan

“Mama, Papa …. aku bosan”. Barangkali Anda kerap mendengar kalimat tersebut dari anak Anda. Seketika Anda merasa menjadi orang tua yang “buruk”. Sehingga sebagian dari Anda seperti ada dorongan untuk sesegera mungkin menyelesaikan “masalah” ini. Berujung biasanya dengan memberikan hiburan berupa teknologi atau aktivitas terstruktur. Namun  sebenarnya hal tersebut bisa jadi malah kontraproduktif. Oleh karena pada dasarnya anak-anak perlu berhadapan dan terlibat menggunakan waktu yang tidak terstruktur.

Mengapa waktu yang tidak terstruktur sangat penting untuk perkembangan kesehatan anak Anda?

Salah satu tantangan terbesar Anda sebagai orang dewasa adalah belajar mengelola waktu dengan baik. Jadi, penting bagi anak-anak untuk memiliki pengalaman memutuskan sendiri bagaimana menggunakan waktu yang tidak terstruktur. Hal tersebut memberi anak-anak kesempatan untuk menjelajahi dunia luar dan dalam, begitulah cara mereka menemukan diri mereka. Itu awal dari kreativitas; bagaimana mereka belajar untuk terlibat dengan diri mereka sendiri dan dunia, untuk berimajinasi dan menciptakan sesuatu.

Jadi, respons terbaik untuk “Aku bosan”, adalah:

“Bagus! Bosan adalah perasaan “kosong” sebelum kamu membuat atau menjelajahi atau menemukan sesuatu! Saya tidak sabar melihat apa yang kamu lakukan dengan perasaan tersebut!”

Waktu yang tidak terstruktur juga menantang anak-anak untuk mengeksplorasi minat mereka sendiri, yaitu bagaimana mereka tumbuh dan mengembangkan bakat unik mereka. Jika kita membuat mereka sibuk dengan pelajaran dan aktivitas terstruktur, atau mereka “mengisi” waktu mereka dengan hiburan dari layar gawai, mereka tidak pernah belajar menanggapi kegaduhan hati mereka sendiri, yang mungkin menuntun mereka untuk membangun benteng di halaman belakang, membuat monster dari tanah liat, menulis cerita pendek atau lagu, mengajak anak-anak tetangga untuk membuat film, atau hanya mempelajari serangga di trotoar (seperti yang dilakukan Einstein selama berjam-jam). Panggilan dari hati kita inilah yang menuntun kita pada hasrat yang membuat hidup bermakna, dan itu tersedia bagi kita mulai dari masa kanak-kanak – tetapi hanya ketika anak-anak diberi kebebasan untuk mengeksplorasi dan mengejar ke mana minat mengarahkan mereka.

Ketika anak-anak tidak dapat menemukan sesuatu untuk dilakukan, biasanya itu karena:

  • Mereka terbiasa menikmati hiburan lewat layar gawai sehingga tidak terlatih untuk mencari arah ke dalam diri mereka sendiri.
  • Waktu mereka sangat terstruktur sehingga mereka tidak terbiasa menemukan hal-hal menyenangkan untuk dilakukan dengan “waktu luang” mereka.
  • Mereka tidak punya siapa-siapa untuk diajak bermain-main, dan belum menemukan hal-hal yang mereka suka lakukan sendiri.
  • Mereka membutuhkan terhubung dengan orang tua. Semua anak perlu check-in dengan orang tua mereka untuk mengisi bahan bakar sepanjang hari.

Sayangnya, sebagian besar masyarakat kita membesarkan anak-anak kea rah kecanduan layar gawai. Hal tersebut karena alat elektronik (iPad, telepon, komputer, game boy) dirancang untuk menghasilkan “dopamin” di otak kita saat kita berinteraksi dengannya. Itu sangat menyenangkan sehingga pengalaman lain tidak ada apa-apanya.

Akan tetapi anak-anak membutuhkan semua jenis pengalaman lain, mulai dari membuat bangunan dari permainan blok (keterampilan motorik, kemampuan persepsi), terlibat dengan anak-anak lain (belajar bagaimana bergaul dan bermitra dengan orang lain) hingga menjadi orang yang kreatif (menjadi pelaku, bukan pengamat pasif). Anak-anak juga perlu aktif secara fisik. Tubuh mereka dirancang untuk bergerak, dan jika tidak, mereka akan kesulitan menjaga perhatian dan suasana hati yang baik. Itulah mengapa penting untuk membatasi waktu layar gawai.

 

Sumber: ahaparenting.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *