Mendampingi Anak di Dunia Digital

Mendampingi Anak di Dunia Digital

Kemajuan teknologi digital membawa sebagian besar masyarakat ke penggunaan perangkat teknologi secara masif untuk menyelesaikan segala urusan. Kondisi tersebut semakin bertambah kuat ketika kurang lebih empat bulan yang lalu pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Pembatasan sosial yang dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat, membuat kita menjadi sangat “tergantung” pada kekuatan teknologi hampir di semua aspek kehidupan, salah satunya dalam hal pendidikan. Ketika perjumpaan secara fisik tidak memungkinkan, pilihan paling masuk akal adalah menggunakan perangkat teknologi digital sebagai alat bantu materi pembelajaran siswa di semua tingkatan pendidikan. Hal tersebut membuat paparan penggunaan gawai (gadget) semakin tidak terbendung. Maksud hati membatasi penggunaan gawai pada anak, tapi apa daya pandemi Covid-19 malah membuat anak makin sering menggunakannya, dan tidak mungkin kita melarangnya. Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua?

Orang tua harus menerapkan apa yang disebut dengan pengasuhan digital. Pada prinsipnya, pengasuhan digital merupakan model pengasuhan anak yang disesuaikan dengan kebiasaan anak yang begitu akrab dengan perangkat teknologi digital. Sebuah upaya menanamkan sikap bijak berperilaku di dunia digital yang serba cepat dan serba terbuka, dengan tujuan agar anak tidak kelewat batas dan menjadi kecanduan. Mengutip pendapat Stephen Balkam, pendiri dan CEO Family Online Safety Institute, anak cenderung selalu meniru orang tuanya. Ketika orang tua rajin mengecek email atau pesan instan di gawai, misalnya, anak kemungkinan besar akan penasaran. “Jadilah teladan dan panutan yang baik ketika orang tua berkumpul dengan anak. Ini adalah inti pengasuhan digital yang baik,” ujar Stephen. 

Stephen juga berpendapat bahwa anak sekarang merupakan generasi yang sudah sangat akrab dengan dunia digital sejak lahir. Mereka umumnya sudah mengenal gawai beserta aplikasi karena lahir di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Serta acap kali mereka lebih paham dibandingkan orang tuanya. Menyadari hal tersebut, orang tua tidak perlu bereaksi berlebihan, cukup dengan terus mengedukasi diri sendiri, memahami gawai, dan perangkat digital. Fitur-fitur kontrol pengasuhan (parental control) boleh diterapkan orang tua. Namun harap diingat, orang tua tetap harus membuka komunikasi dengan anak, menemani, dan berdialog dengan mereka.

Ada tiga lapisan yang harus dimiliki keluarga sebagai bagian dari kewarganegaraan digital. Lapisan pertama adalah kesadaran pentingnya keselamatan, keamanan, dan privasi. Lapisan kedua, literasi media agar lebih bijak menyikapi hadirnya informasi palsu dan kebenaran konten. Adapun lapisan ketiga menyangkut kesadaran tentang hak dan kewajiban. Tidak mudah membangun tiga lapisan kesadaran kewarganegaran digital itu sekaligus, apalagi di tengah pandemi Covid-19, ketika cara berkomunikasi utama harus menggunakan gawai. Sehingga yang terpenting bagi orang tua untuk saat sekarang adalah menyusun jadwal belajar secara daring (online) dan utamakan komunikasi langsung dengan anak. Orang tua juga harus berdialog dengan anak tentang kerawanan-kerawanan interaksi di ruang virtual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *