MENDISIPLINKAN ANAK BUTUH KEKOMPAKAN

MENDISIPLINKAN ANAK BUTUH KEKOMPAKAN

Dalam hal mendisiplinkan anak, aturannya sederhana saja: jelas, sederhana dan yang terpenting konsisten dengan aturan yang dibuat. Semakin orang tua konsisten dengan batasan, akan lebih mudah bagi anak untuk tetap berada dalam batasan.

Jane Nelsen  dalam bukunya “Positive Discipline”, menyatakan bahwa untuk mendisiplinkan anak, orang tua harus kompak. Hindari agar tidak terjebak saling adu kekuatan dengan pasangan. Orang tua perlu bicara untuk menyamakan visi dalam mendisiplinkan  anak.

  1. Tanyakan pada pasangan, bagaimana dulu dia dibesarkan karena biasanya gaya pengasuhan berulang.Kita mengambil banyak nilai  yang ditanamkan oleh orang tua kita dulu. Mencari tahu latar belakang bagaimana dulu dia dibesarkan oleh orang tuanya, bisa memberi gambaran bagaimana gaya pengasuhan yang dianut pasangan. Tanyakan pasangan, mengapa dia memilih gaya disiplin tersebut. Dengarkan penjelasannya tanpa diinterupsi. Tanyakan pada diri sendiri apakah ada hal-hal yang Anda tidak setujui dari gaya pasangan dalam mendisiplin anak.

 

  1. Tidak ada perasaan terpendam.Bila ada cara yang tidak Anda setujui jangan diam saja, utarakan! Sebaiknya setiap sebulan sekali Anda dan pasangan duduk bersama membahas masalah ini. Tuliskan beberapa hal yang mengganjal. Ini kesempatan Anda jujur dan harus saling mendengarkan dan menghargai pendapat masing-masing. Tujuannya bukan untuk menguasai, tapi Anda dan pasangan bisa mendapatkan peraturan dimana Anda berdua bisa merasa nyaman menerapkannya.

 

 

  1. Terima sedikit perbedaan.Mustahil berharap pasangan akan punya pandangan yang sama persis dalam mendisiplinkan anak. Begitu pula, dia juga tidak akan selalu mengikuti semua keinginan Anda. Namun  dengan mempertahakan sedikit individualitas Anda, termasuk saat mendisiplinkan anak, berarti Anda mendidik kecerdasan emosional anak. Anak belajar dari apa yang dia harapkan dari satu orang dewasa lawan orang dewasa lainnya.  Ini adalah hal yang baik.

 

  1. Tidak di depan anak. Ketika Anda dan pasangan mulai bicara strategi mendisiplin anak, pilih tempat tenang, dimana hanya Anda berdua saja. Misalnya malam hari saat anak sudah tidur. Bicaralah dengan kepala dingin.

 

 

  1. Terus eksplorasi.Ada berbagai pilihan dalam mendisiplin anak, seimbangkan antara pro dan kontra. Kembangkan satu set peraturan dan konsekuensi yang disetujui bersama. Namun, Anda harus siap untuk menyesuaikannya lagi atau bahkan mengubah seluruh aturan tersebut bila dalam jangka waktu tertentu ternyata tidak berjalan dengan baik. Anda dan pasangan harus terbuka untuk kompromi.

 

  1. Selalu satu kata di depan anak, jangan tunjukkan ketidaksetujuan di depannya. Anak melihat  Anda sebagai  orang yang memberi keamanan dan cinta dalam hidup mereka. Bila anak melihat kedua orang tuanya beradu pendapat, terutama tentang dirinya, bisa menggoyahkan pemahamannya.  Anak bisa marah atau ketakutan dan merasa  menjadi penyebab pertengkaran orang tuanya. Ini bisa menyebabkan kepercayaan dan kesadaran dirinya berkurang.

 

 

  1. Selalu cek dengan pasangan. Anak memang pintar dan bila Anda merasa dia seperti mengadu domba Anda dan pasangan, ingat untuk selalu satu suara. Misalnya, dia mengatakan kalau ayah mengizinkannya membereskan mainan nanti setelah nonton film, padahal ada aturan langsung mengembalikan mainan ke tempatnya setelah main. Sebaiknya, buat persetujuan bersama jika Anda akan memberi izin setelah Anda berbicara dengan pasangan. Atau katakan padanya dia butuh dua “iya” dari ayah dan bunda sebelum dia boleh melakukan hal tersebut. Ingat, tidak semua butuh jawaban saat itu juga.

 

  1. Beri semangat, terutama bila dia merasa tidak nyaman dengan tindakannya saat mendisiplinkan anak. Walapun mungkin Anda sebenarnya tidak terlalu suka dengan caranya menangani situasi, berusahalah untuk berempati pada pasangan dan memberinya dukungan. Cari waktu dimana Anda bisa membicarakan hal tersebut denganya. Buka dengan kalimat lembut yang tidak menghakimi dia seperti, “Tadi tidak mudah, mungkin kamu kesal. Mau membicarakannya?”

 

 

  1. Jangan bawa nama keluarga, terutama saat Anda tidak setuju dengan pasangan. Jangan ucapkan kalimat ini: “Kamu suka teriak dan marah-marah, sama seperti ayah kamu!”  Bila Anda mengatakan hal itu, sama saja dengan meremehkan pasangan. Dia juga akan semakin bertahan dengan pendiriannya. Hal ini membuat kompromi untuk mencari titik temu solusi cara pendisiplinan anak semakin sulit dicapai.

 

  1. Jangan menyerah bila pasangan tidak mau membicarakan cara mendisiplinkan anak. Memang akan lebih sulit untuk menemukan cara menyatukan pandangan Anda dalam mendisiplinkan anak, tapi Anda tak boleh diam saja.  Anda adalah orang yang paling mengenal pasangan sehingga Anda tahu bagaimana caranya mengajak dia mau membicarakan masalah tersebut. Misalnya, Anda bisa menanyakan apa saja perilaku anak yang membuat Anda kesal dan apa  ide dia untuk mengatasi masalah tersebut.

 

Sumber: ayahbunda.co.id

Foto: pixabay.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *