Menimbang Manfaat dan Risiko Pembukaan Sekolah di New Normal

Menimbang Manfaat dan Risiko Pembukaan Sekolah di New Normal

Tahun ajaran baru 2020/2021 sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan dimulai pada minggu ketiga Juli 2020. Saat ini masyarakat masih menunggu apakah sekolah akan dibuka juga pada saat itu. Sebuah keputusan lanjutan yang cukup pelik apa dan bagaimana sekolah akan dibuka kembali. Risiko tetap mengintai ketika sekolah dibuka pada saat pandemi belum berakhir. Beberapa negara seperti Korea Selatan, Perancis, dan Finlandia terpaksa menutup kembali sekolah yang sudah dibuka karena muncul kasus Covid-19 baru. Namun di sisi yang lain, menutup sekolah yang sudah berlangsung cukup lama juga bukan persoalan mudah. Dan bagi sejumlah siswa, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga menjadi tempat bersosialisasi dengan teman-teman. Sekuat apapun dukungan teknologi pada komunikasi antarmanusia, tetap perjumpaan di dunia nyata lebih menghangatkan dan memenuhi perasaan hati, demikian kurang lebih ilustrasinya. Meski, bagaimana pun membuka sekolah kembali seyogyanya memang harus menimbang manfaat dan risiko yang menyertainya.

UNESCO, Unicef, dan Bank Dunia menekankan, prioritas utama membuka kembali sekolah adalah melindungi kehidupan dan kesejahteraan masyarakat, termasuk siswa dan guru. Kepentingan terbaik siswa dan pertimbangan kesehatan masyarakat berdasarkan penilaian atas manfaat dan risiko terkait pendidikan, kesehatan, dan faktor sosial ekonomi harus menjadi pusat keputusan. Koordinasi dan komunikasi dengan orang tua, guru, siswa, dan masyarakat penting untuk memahami langkah operasional pembukaan sekolah. Keputusan bersifat spesifik, termasuk kapasitas sekolah untuk menekan risiko penularan Covid-19 dengan perilaku hidup sehat dan protokol kesehatan ketat. Pandemi Covid-19 barangkali bisa menjadi sebuah titik balik untuk reformasi pendidikan. Penggunaan teknologi selama penutupan sekolah perlu dikembangkan untuk memperkuat pedagogi dan membangun model pembelajaran yang memadukan tatap muka dan jarak jauh.

Sambil menunggu keputusan definitif dari pemangku kebijakan bidang pendidikan, setahap demi setahap Sekolah Stella Maris sudah mempersiapkan berbagai langkah dalam menghadapi tahun ajaran baru. Panduan dan simulasi mulai dipersiapkan menuju new normal di bidang pendidikan. Pendekatan pembelajaran campuran (blended learning) juga terus dikembangkan oleh Sekolah Stella Maris agar kualitas pembelajaran tetap terjaga. Model pembelajaran jarak jauh sudah berhasil diterapkan dengan baik oleh Sekolah Stella Maris sehingga seakan menjadi “ujian” yang sudah bisa dilewati. Selain itu keberhasilan menyelenggarakan prosesi kelulusan siswa secara drive thru oleh Sekolah Stella Maris juga menjadi salah satu tonggak penting adaptasi dengan tantangan yang ada, sekaligus sebagai upaya melakukan transisi ke keadaan new normal. Pada akhirnya ketika dunia pendidikan memasuki era new normal, kedisiplinan penerapan protokol kesehatan sesuai rekomendasi dari pemerintah dan kebiasaan hidup sehat akan menjadi salah satu kunci keberhasilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *