Misa Rabu Abu, Awal Masa Prapaskah 2021

Misa Rabu Abu, Awal Masa Prapaskah 2021

Menghayati Nilai-Nilai Kristiani dengan Berdoa, Berpuasa, Beramal Kasih

 

Hari Rabu Abu, dalam tradisi liturgi Gereja Katolik, menjadi awal dimulainya masa Prapaskah. Dari Rabu, 17 Februari 2021 hingga Sabtu, 3 April 2021, umat Katolik diajak untuk memasuki masa penuh rahmat, tenggelam dalam kerahiman dan belas kasih Allah, Sang Raja Agung. Kita diingatkan kembali bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk ciptaan Allah, makhluk yang fana dan oleh karenanya membutuhkan rahmat dari Allah.

Sebagai lembaga pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani, Sekolah Stella Maris menggelar Misa Rabu Abu secara daring (online) pada Rabu (17/02/2021). Pastor Bernardus Hardijantan Dermawan, dari Gereja Katolik Santo Laurensius, Paroki Alam Sutera memimpin misa yang ditayangkan secara live streaming lewat kanal Youtube Stema TV dari lokasi auditorium Getsemani, Stella Maris School Gading Serpong. Oleh karena masih dalam masa pandemi COVID-19, jumlah peserta misa dibatasi dan harus tetap mematuhi protokol kesehatan.

Dalam khotbah perenungan singkat misa Rabu Abu, Pastor menekankan bahwa di masa Prapaskah yang penuh rahmat ini, Gereja Katolik mengajarkan pada kita olah atau latihan rohani, latihan kesalehan. Ada tiga kata kunci, seperti diwartakan dalam Injil Matius, yaitu berdoa, berpuasa, dan beramal kasih. Dengan berdoa kita diajak semakin mengenal Allah, mengalami kasih setia-Nya. Berpuasa bermakna turut ambil bagian dalam penderitaan Yesus Sang Juru Selamat di kayu salib. Sedangkan beramal kasih berarti semakin mengidentifikasi diri pada kasih Allah. Tiga nilai tersebut merupakan nilai-nilai Kristiani yang seyogianya ditumbuhkembangkan pada masa Prapaskah.

Paus Fransiskus dalam pesan Prapaskah tahun 2021 menyampaikan kurang lebih hal yang senada. Puasa, doa, dan sedekah, seperti yang dikhotbahkan oleh Yesus, memungkinkan dan mengungkapkan pertobatan kita. Jalan kemiskinan dan penyangkalan diri (puasa), kepedulian dan kasih sayang kepada orang miskin (sedekah), dan seperti anak kecil berdialog dengan Bapa (doa) memungkinkan kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang tulus, harapan yang hidup dan memberlakukan amal kasih. Dalam perjalanan Prapaskah kita menuju Paskah, marilah kita mengingat Dia yang “telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib”. Selama masa pertobatan ini, marilah kita memperbarui iman kita, menimba dari “air hidup” harapan, dan dengan hati terbuka menerima kasih Allah, yang menjadikan kita saudara dan saudari di dalam Kristus. Pada malam Paskah, kita akan memperbarui janji baptisan kita dan mengalami kelahiran kembali sebagai manusia baru melalui karya Roh Kudus. Perjalanan Prapaskah ini, sebagaimana seluruh perjalanan peziarahan dalam kehidupan Kristiani, bahkan sekarang diterangi oleh cahaya kebangkitan, yang mengilhami pemikiran, sikap dan keputusan para pengikut Kristus.

Setiap saat dalam kehidupan kita adalah waktu untuk percaya, berharap dan mengasihi. Panggilan untuk mengalami Prapaskah sebagai perjalanan pertobatan, doa, dan berbagi kepunyaan kita, membantu kita – sebagai komunitas dan sebagai individu – untuk menghidupkan kembali iman yang berasal dari Kristus yang hidup, harapan yang diilhami oleh nafas Roh Kudus dan kasih mengalir dari hati Bapa yang penuh belas kasihan.

Semoga berkat Tuhan yang bangkit menyertai kita semua dalam perjalanan kita menuju terang Paskah.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *