Pembatasan Sosial dan Pengasuhan Anak

Pembatasan Sosial dan Pengasuhan Anak

Tiga bulan sudah sejak pemerintah mengumumkan secara resmi munculnya kasus positif virus corona di Indonesia pertama kali. Dan semenjak itu pula kita akrab dengan terminologi pembatasan sosial, sebuah situasi yang “aneh” karena manusia pada dasarnya makhluk sosial, kebutuhan untuk bersosialisasi, berkumpul dengan sesama manusia adalah keniscayaan. Dan semua itu seketika berubah karena pandemi Covid-19.

Di dalam lingkup masyarakat yang paling kecil yakni keluarga, turut terimbas juga situasi yang barangkali tidak pernah terlintas di benak kita. Orang tua dan anak-anak sedang menghadapi disrupsi kehidupan yang besar akibat wabah penyakit. Penutupan sekolah, physical distancing, banyak hal berat yang harus dilalui dan tentunya ini adalah masa yang sulit bagi seluruh anggota keluarga. Alhasil sepanjang pembatasan sosial ini interaksi dalam keluarga mengalami perubahan karena menghabiskan waktu lebih lama berada di rumah, untuk bekerja, belajar, dan lain sebagainya. Orang tua sebagai “supir” dalam keluarga harus mampu beradaptasi dalam hal mengasuh dan mendidik anak sehingga seluruh “penumpang” berhasil dengan selamat melewati situasi sulit ini.

Dikutip dari kompas.id, ahli pengembangan anak, Fitriana Herarti menuturkan, salah satu prinsip utama dalam mengasuh anak adalah mengubah pemikiran konvensional yang masih melekat. Selama ini, orang tua masih berpikir mendidik dan mengasuh anak adalah tugas yang berbeda. “Orang tua perlu mengubah pemikiran menjadi mendidik dan mengasuh adalah satu kesatuan, bukan hal yang terpisah. Jadi, mereka akan menganggap itu bukan sebagai beban. Selama pembatasan sosial orang tua perlu menjaga kegiatan rutin tetap berjalan normal, seperti belajar. Ini dilakukan agar anak dapat menjaga sikap dalam pengelolaan diri dan tanggung jawab. Orang tua bisa memantau pembelajaran anak berdasarkan responsive parenting di mana orang tua berperan aktif dan merespons proses belajar anak. Di sisi lain, orang tua juga harus bisa mengelola pola pikir negatif dan target yang terlalu muluk. Untuk itu gunakan waktu jeda untuk melepaskan diri dari pikiran negatif agar kembali memiliki kontrol diri” kata Fitriana lebih lanjut.

Salah satu badan dunia di bawah naungan PBB, UNICEF yang fokus pada permasalah anak-anak di dunia, dalam salah satu artikelnya membagikan beberapa kiat pengasuhan anak di masa pandemi ini. Ada 6 poin yang menjadi garis besarnya:

  1. Waktu berkualitas dengan masing-masing anak
  2. Tetap positif
  3. Buat jadwal
  4. Mengatasi perilaku kurang baik
  5. Tetap tenang dan kelola stres
  6. Mendiskusikan Covid-19

Sejalan dengan pemikiran di atas, Sekolah Stella Maris yang melakukan penutupan sekolah sejak pertengahan Maret 2020, selalu menekankan kolaborasi antara sekolah, siswa dan orang tua dalam proses belajar di rumah. Dengan demikian akan terjalin komunikasi yang baik sehingga sedikit banyak bisa membantu orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak di rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *