REDEFINISI PENDIDIKAN, KONSEP BESAR “MAS MENTERI” NADIEM MAKARIM

REDEFINISI PENDIDIKAN, KONSEP BESAR “MAS MENTERI” NADIEM MAKARIM

Pembangunan sumber daya manusia yang unggul, produktif, dan mampu bersaing di kancah global menjadi prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Pendidikan menjadi ujung tombak terjadinya perubahan pembentukan pola pikir dan karakter generasi penerus bangsa.
Dikutip dari harian Kompas yang melakukan wawancara khusus dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, ada beberapa hal yang menjadi perhatian utama terkait dengan konsep besar di bidang pendidikan:
1. Berkaitan dengan masalah dasar pembentukan SDM yang unggul.

Menurut Nadiem ada 2 hal yang perlu menjadi perhatian: ketidakcocokan dalam konten pendidikan dengan kebutuhan industri yang harus diselesaikan melalui link and match (keterkaitan dan kesepadanan) serta ada masalah pada pemenuhan kompetensi dunia riil. Dunia memerlukan manusia yang mampu beradaptasi, berkolaborasi, dan memiliki kreativitas. Akan tetapi, pola pendidikan kita belum banyak berubah selama 20 tahun terakhir. Transformasi ini adalah proses evolusi yang perlu dipercepat.

2. Berkaitan dengan kebutuhan dunia pada saat ini dan pada masa depan.

Nadiem mengatakan bahwa dulu, pola pendidikan adalah menguasai materi sebanyak-banyaknya dan mengingat fakta. Sekarang, kompetensi merupakan hal utama, diikuti berbagai keterampilan. Keterampilan tidak sebatas hal teknis dan kognitif, tetapi juga keterampilan lunak, seperti empati, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan bisa berkolaborasi. Lebih penting lagi adalah kemauan untuk terus belajar dan berkarya. Dunia industri jarang mengeluhkan hal-hal seperti pengetahuan SDM atas bidang pekerjaan dan kemampuan teknisnya. Justru, yang dikeluhkan adalah SDM kita minim inisiatif, tidak bisa bekerja di dalam tim, tidak percaya diri dalam mengambil keputusan, tidak komunikatif dalam mengutarakan gagasan, dan tidak disiplin dalam menghargai waktu. Padahal aspek-aspek ini kunci dari profesionalisme. Jadi harus ada redefinisi pendidikan.

3. Berkaitan dengan bagaimana pendidikan mengatasi masalah kompetensi karakter.

Nadiem menekankan melalui pendidikan karakter untuk siswa, orang tua, dan masyarakat. Karakter dan kompetensi tidak bisa dipisahkan. Kurikulum saja tidak cukup untuk pendidikan karakter. Pendidikan karakter tidak bisa diperlakukan sama seperti belajar matematika, sejarah, dan lainnya. Karakter hanya bisa diperoleh dari berpartisipasi di kegiatan yang memang membangun nilai-nilai tersebut.

Foto: pixabay.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *