Resensi Buku Inspiratif  “Smart Emotion Volume 2, Strategi Jitu Mengelola Emosi” – Anthony Dio Martin

Resensi Buku Inspiratif “Smart Emotion Volume 2, Strategi Jitu Mengelola Emosi” – Anthony Dio Martin

Di tengah pandemi Covid-19, saya  berusaha  mengisi waktu luang dengan membaca buku.  Buku yang menurut saya tepat untuk suasana sekarang adalah buku “Smart  Emotion Volume 2 – Strategi Jitu Mengelola Emosi” karena banyak orang mengalami gangguan emosi. Buku ini dikarang oleh Anthony Dio Martin yang memiliki tujuh prinsip utama dalam kecerdasan emosional yang mendasari setiap segmen isi buku ini. Sang pengarang berharap bahwa buku ini bisa menginspirasi banyak orang untuk semakin cerdas secara intelektual dan juga emosional. Selain itu, Anthony menyaksikan banyak laporan di televisi, koran, dan majalah mengenai orang yang menderita berkepanjangan akibat emosi mereka yang tidak terkendali. Hal ini membuatnya mempersembahkan buku ini kepada mereka, terlebih mereka yang tidak mampu mengendalikan emosinya. Jadi, buku ini berisi atau berfokus pada hal yang memotivasi dan menginspirasi masyarakat Indonesia mengenai emosi diri mereka masing-masing, sehingga mereka bisa mengenal lebih dalam dan sadar akan perbuatannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Bagian inspiratif

Buku ini berisi kisah yang inspiratif dan memotivasi semua orang dalam kehidupan, baik dari permasalahan hidup yang sangat sederhana hingga yang sangat berat. Dalam buku ini, saya memilih bab 6 yang bertemakan “Emosi dan Transisi Hidup”.

Emosi adalah kekuatan dahsyat yang dapat melampaui batas kesadaran dan fisik seseorang. Transisi adalah peralihan dari keadaan masa lalu kepada masa sekarang. Namun, banyak orang yang salah mengartikan kata transisi dan perubahan. Perubahan adalah kata yang sangat umum untuk menjelaskan kondisi kehidupan. Akan tetapi, menurut William Bridges, seorang pengarang buku manajemen menyatakan bahwa istilah perubahan kurang tepat untuk menjelaskan apa yang kita alami. Menurutnya, kita bisa saja berubah, tetapi jangan terjadi perubahan fisik saja, sementara emosi dan perasaan kita masih melekat pada keadaan sebelumnya.

Ada kisah menarik tentang seorang jenderal perang yang membawa banyak pasukannya untuk berperang dengan beberapa armada kapal. Pasukannya banyak yang ketakutan, setengah hati, dan bahkan banyak yang mengeluh karena mereka masih bernostalgia dan terus menerus berpikir ingin pulang. Hal ini membuat sang jenderal ingin meningkatkan semangat juang para pasukannya dengan membakar seluruh kapal yang dibawa sehingga para pasukannya akan berperang habis-habisan atau akan mati konyol di sana.

Hal yang sama banyak terjadi pada perusahaan-perusahaan yang melakukan merger, akuisisi, atau perubahan yang dahsyat. Dari pengalaman sang penulis, ia bercerita bahwa banyak para pekerja yang konsultansi dengannya. Mereka sudah kerja lama di tempat yang baru, tetapi tetap masih sering bernostalgia dan merasa lebih nyaman di perusahaan yang sebelumnya. Melihat hal ini, kita harus bisa sadar bahwa setiap diri kita harus bisa melihat realita dan meninggalkan kelekatan kita pada keadaan sebelumnya yang lebih nyaman.

Permasalahan ini juga terjadi pada seorang dekan yang dulunya di Indonesia, lalu pindah ke luar negeri dan akhirnya menjadi warga negara di sana. Meski sudah hampir 4 tahun tinggal di sana, ia masih sering dipenuhi oleh pikiran akan perlakuan dan fasilitas yang ia dapatkan selama ia di Indonesia.

Kasus pasukan perang, para pekerja, dekan adalah contoh transisi yang gagal. Hal yang berpengaruh besar pada mereka adalah mereka memiliki perasaan nyaman dan suasana enak yang sulit dilepaskan sehingga mereka sulit untuk menerima realita di kehidupan yang baru.

 

Penerapan hidup

Menurut saya hal seperti kesulitan beradaptasi ini wajar dan pernah terjadi di setiap diri kita masing-masing. Bernostalgia memang tidak salah, tetapi kondisi ini cenderung membuat mempersulit adaptasi dan mengakibatkan semangat dan produktivitas seseorang hanya setengah-setengah. Maka dari itu, terdapat tips-tips dalam menciptakan transisi penting dalam kehidupan kita. Pertama, kita harus berani melihat dan menerima realita baru. Karena semakin kita cepat belajar untuk menerimanya, semakin cepat kita beradaptasi. Kedua, mari menciptakan komitmen 100% untuk menerima dan berbaur dengan situasi yang baru. Ketiga, kurangi atau bahkan hilangkan kenangan yang kurang memberi manfaat agar kita tidak terus menerus mengekang mental kita mengenai situasi lama atau yang sudah berlalu. Keempat, fokuskan pikiran pada hal-hal yang positif di lingkungan dan di situasi yang baru. Karena pemikiran yang diarahkan pada hal negatif akan membuat mental kita terus menerus melekat pada situasi lama kita.

 

Ajakan membaca buku

Buku adalah jendela pengetahuan atau sumber ilmu. Kita bisa membaca buku pelajaran, buku tentang kisah nyata, novel, maupun fiksi. Karena selain menambah ilmu pengetahuan, membaca buku yang memberi motivasi seperti buku ini bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk berpikir dan berperilaku lebih baik dan benar dalam kehidupan kita masing-masing. Membaca buku motivasi juga bisa membangun semangat kita bila kita dipenuhi dengan permasalahan hidup yang cukup rumit dan kesulitan untuk menyelesaikannya. Maka dari itu, marilah kita membiasakan diri untuk membaca buku sejak dini, apalagi di tengah pandemi  Covid-19 ini.

 

Celine Sachi

Grade 10 IB Stella Maris School Gading Serpong

Hubungi kami untuk bertanya lebih lanjut tentang pengajaran di Stella Maris, pendaftaran sekolah ataupun beasiswa.

 

“Stella Maris Selalu Selangkah Ke Depan Dalam Memberikan Pelayanan dan Pendidikan Terbaik”

#pastibisasukses #generasisukses #25thStema

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *