Seni Menghadapi dan Menangani Konflik dengan Anak

Seni Menghadapi dan Menangani Konflik dengan Anak

Dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam keluarga terkadang muncul konflik antara orang tua dan anak dengan sebab yang bermacam-macam. Perbedaan keinginan dan pandangan antara orang tua dengan anak berkaitan dengan batasan, nilai-nilai, dan kedisiplinan acap kali menjadi pemicu terjadinya konflik. Ketika tidak setuju dengan pendapat orang tua misalnya, anak akan membantah. Nah, pada titik inilah diperlukan sebuah cara atau bisa disebut sebagai seni mengelola konflik dengan anak secara sehat. Oleh karena konflik antara orang tua dan anak sesungguhnya merupakan proses untuk tumbuh, baik bagi orang tua maupun anak. Dan kesemuanya itu hal yang wajar sejauh konflik yang terjadi segera diselesaikan dan tidak berlarut-larut.

Seorang psikolog anak, Hanlie Muliani memberikan beberapa tips saat orang tua mengalami konflik dengan anak:

  • Memahami setiap perkembangan usia anak

Hubungan orang tua dengan anak-anak yang lebih kecil merupakan hubungan yang vertikal. Bisa diibaratkan dengan angka dua belas ke angka enam pada jam dinding. Namun saat anak sudah memasuki usia praremaja, relasi dia dengan orang tua sudah tidak bisa seperti angka enam dan angka dua belas, tetapi bergeser ke angka delapan dan angka dua. Nanti kalau anak sudah SMP, relasinya itu sudah angka sembilan dan angka tiga. Nanti kalau anak-anak sudah SMA, mereka ingin diperlakukan seperti orang dewasa.

  • Perhatikan cara berkomunikasi dengan anak

Komunikasi pada dasarnya memuat tiga unsur, yaitu kata-kata, intonasi, dan bahasa tubuh. Sering kali kita hanya memerhatikan kata-kata yang kita ucapkan, tapi lupa perhatikan ekspresi dan bahasa tubuh. Padahal kata-kata itu hanya tujuh persen, intonasi tiga puluh delapan persen, dan bahasa tubuh lima puluh lima persen.

Misalnya orang tua sedang berbicara pada anak menggunakan kata-kata yang sama, tetapi dengan intonasi yang berbeda:

– “(berteriak) Pokoknya Mama enggak mau dengar lagi kamu ngomong gitu!!!”

– “(tegas tapi lembut) Kamu jangan begitu, ya. Mama enggak mau dengar lagi.”

Sebenarnya pesan yang ingin disampaikan sama, akan tetapi ketika anak ditegur dengan cara pertama dan ditegur dengan cara kedua, akan memberikan efek bagaimana anak berpikir dan merasakan yang berbeda. Bukan berarti ketika menegur dengan cara yang kedua, orang tua akan kehilangan wibawanya.

  • Bikin anak merasa nyaman

Jika orang tua membuat anak merasa nyaman, pesan yang akan dikatakan bisa tersampaikan dengan jelas.

Orang tua harus pintar-pintar mencari kesamaan, menyamakan model dunianya dengan dunia anak. Tujuannya adalah supaya anak merasa dekat, terkoneksi, dan related dengan orang tua. Karena ketika anak sudah merasa dekat dan related, apa pun yang disampaikan orang tua, kecenderungan anak untuk lebih bisa menerima itu lebih tinggi daripada ketika mereka belum merasa dekat.

Menyamakan model dunia dengan anak banyak caranya. Misalnya anak-anak suka BTS, K-Pop, orang tua harus mencari tahu tentang mereka meskipun tidak suka. Jadi intinya adalah terkoneksi dulu dengan anak, tidak bisa langsung menyampaikan koreksi.

  • Selalu jaga dan pelihara kasih sayang orang tua dan anak

Cinta perlu dijaga dan dipelihara seperti tangki bensin mobil yang butuh diisi ulang. Tangki cinta prinsipnya sama seperti tangki bensin di mobil, artinya harus di-maintain. Harus diisi, tidak cuma orang tua dan anak, tapi juga terhadap pasangan dan orang lain. Ini harus diingat, kalau anak tidak merasa dicintai, tidak merasa diperhatikan, tidak merasa dekat dengan orang tuanya, tangki cintanya bisa kering. Jika tangki cinta kering, segala pendisiplinan orang tua, mungkin tidak akan dianggap sebagai pendisiplinan, tapi justru dirasa sebagai hukuman, karena tangki cintanya tidak diisi. Sebagai contoh orang tua tidak mengizinkan anak untuk main ke mal karena sedang terjadi pandemi Covid-19. Bagi anak yang merasa dekat dengan orang tua, ia akan mempersepsikan larangan itu sebagai wujud perhatian. ‘Oh iya, karena Mama care sama aku, makanya aku dibatasin, Mama enggak mau aku kenapa-kenapa.” Tetapi sebaliknya, bagi anak yang tidak dekat dengan orang tua, bisa jadi ia justru merasa: “Memang Mama enggak sayang sama aku, makanya aku mau ngapa-ngapain selalu dilarang”.

Pada intinya parenting adalah tentang knowledge, skill, dan art. Orang tua perlu memiliki pengetahuan, keahlian, dan juga mengerti seninya berkomunikasi dengan anak dalam menjalankan tugas dan peran pengasuhan.

 

Sumber: Ayahbunda (ayahbunda.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *