Tantangan Pendidik di Era Digital

Tantangan Pendidik di Era Digital

Mencetak manusia unggul tentu menjadi dambaan setiap institusi pendidikan, pun demikian halnya dengan Sekolah Stellla Maris. Pengalaman selama 25 tahun menyelenggarakan pendidikan formal dari tingkat usia dini sampai dengan menengah atas, memberikan pembelajaran yang luar biasa bagi Sekolah Stella Maris. Berbagai daya dan upaya sudah dikerahkan selama ini untuk menghasilkan layanan pendidikan yang bermutu tinggi. Salah satu komponen penting dalam mewujudkan hal tersebut adalah keberadaan pendidik (guru) yang juga berkualitas. Tantangan seorang pendidik tidak bertambah mudah, terlebih dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi informasi atau sering disebut dengan era digital. Harus diakui era digital memberikan dampak di berbagai bidang termasuk dunia pendidikan. Bahkan, sebagian kalangan masyarakat menyatakan bahwa di era ini, peran pendidik sebagai penyampai pesan dan informasi menjadi tergeser, akibat dari semakin mudahnya mengakses beragam informasi. Apakah memang demikian? 

Sumber belajar semakin banyak dan bervariasi, baik dari segi materi, jenis, maupun bantuknya. Berbagai sumber belajar tersebut tidak mungkin lagi dapat dikuasai oleh seseorang yang waktu, tenaga, pikiran yang terbatas. Sumber dan bahan ajar saat ini sudah tersebar di berbagai platform media, seperti Google, Youtube, Linkedin, dan berbagai aplikasi teknologi. Perkembangan sumber belajar yang demikian cepat telah mengubah paradigma pembelajaran dari yang bersifat manual atau face to face menjadi bersifat digital. Di tengah perkembangan seperti demikian, justru peran seorang pendidik amat dibutuhkan. Salah satunya adalah untuk menyaring beragam informasi tersebut. Pendidik harus terampil menyaring dan membagikan informasi agar tidak terseret dalam menyebarkan informasi atau berita bohong (hoaks) misalnya. Sehingga menjadi pendidik yang tidak gaptek serta memiliki reputasi “digital” yang memadai.

Pada dasarnya teknologi hanyalah alat. Kunci utama terletak pada kualitas dan kompetensi para pendidik dalam memanfaatkan teknologi sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang efektif kepada peserta didik. Peran pendidik tidak akan tergantikan teknologi dalam pembelajaran, namun untuk mengakselerasi kompetensi siswa peran teknologi akan sangat mendukung. Keberadaan teknologi digital sebagian dapat menggantikan atau membantu peran pendidik terutama pada aspek pengajaran yang bertumpu pada transfer of knowledge dan technology and skill, namun tidak dapat menggantikan peran pendidik dalam membentuk karakter, mental, kepribadian, dan sikap melalui penanaman nilai-nilai luhur yang berbasis pada agama dan nilai-nilai budaya luhur yang dilakukan dengan cinta kasih, melalui keteladanan, bimbingan, latihan, pembiasaan, dan sebagainya.

Bagaimanapun ternyata peran pendidik sesungguhnya tidak bisa digantikan dengan teknologi. Karena pendidik bukan sekadar menjadi sumber ilmu pengetahuan, melainkan harus mampu menjadi contoh dan teladan yang mentransfer adab dan tata nilai, menjadi role model.  Hal yang perlu direfleksikan adalah ha-hal penting dalam hidup seperti tanggung jawab, kedisiplinan, rasa empati kepada orang lain, jujur, kerja keras, saling menghormati, mencintai sesama manusia, kesederhanaan, keikhlasan, dan lain-lain tidak bisa ditemukan bahkan dalam gawai yang paling smart sekalipun. Hal itu hanya didapat dari keteladanan dan pembiasaan sehingga membentuk karakter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *