Teknologi dan Kreativitas, Normal Baru Dunia Pendidikan

Teknologi dan Kreativitas, Normal Baru Dunia Pendidikan

Pemerintah melalu surat keputusan bersama empat menteri sudah menetapkan bahwa tahun ajaran baru 2020/2021 dimulai pada Juli 2020, namun tidak serta merta sekolah akan dibuka kembali. Seperti kita ketahui bersama, saat ini penularan virus korona jenis baru masih terus terjadi. Kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan akibat pandemi Covid-19 masih membayangi warga masyarakat. Hanya sekolah-sekolah yang berada di zona hijau yang diperbolehkan untuk dibuka kembali dan melakukan pembelajaran tatap muka di kelas, akan tetapi sesuai arahan dari pemerintah, keputusan dikembalikan kepada orang tua siswa. Meskipun sekolah merasa sudah siap dan sudah mengisi daftar periksa terkait penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat, jika orang tua belum siap maka bisa memilih agar putra-putrinya tetap belajar dari rumah dengan alasan kesehatan atau karena transportasi yang tidak memadai untuk menghindari kerumunan atau sulitnya menjaga protokol kesehatan.

Harus diakui, pandemi Covid-19 membawa perubahan, termasuk pada dunia pendidikan. Pandemi Covid-19 menyadarkan seluruh satuan pendidikan, orang tua, siswa, dan guru bahwa pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah, sehingga pendidikan yang efektif memerlukan kolaborasi aktif di antara ketiganya. Dan revolusi di bidang teknologi informasi meniscayakan itu semua terjadi. Meskipun infrastuktur teknologi belum merata, kini para guru dan siswa serta orang tua semakin mengenal dan memanfaatkan beragam teknologi aplikasi untuk membantu pembelajaran. Sebut saja, antara lain, Whatsapp Group, Zoom Cloud Meeting, Google Classroom, Google Form, dan e-mail. Para guru dan siswa menggunakan berbagai aplikasi tersebut sesuai dengan kondisi masing-masing. Mengutip pendapat Ketua Divisi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Smart Learning and Character Center Richardus Eko Indrajit, “Teknologi digital membuat terjadinya konvergensi antara pendidikan formal, nonformal, dan informal sehingga setiap negara harus mampu beradaptasi. Setelah pandemi berakhir, akan ada normal baru, yakni teknologi informasi bagi dunia pendidikan semakin signifikan.”

Namun sejatinya tantangan pendidikan era normal baru tidak hanya pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan guru untuk secara kreatif merancang proses pembelajaran yang tepat sesuai kebutuhan zaman. Berusaha meningkatkan kapabilitas dan literasi guru agar siap menghadapi teknologi digital. Pemanfaatan teknologi informasi terbukti menjadi solusi untuk keberlanjutan pendidikan di masa krisis akibat pandemi Covid-19. Kapasitas guru dalam mengoperasikan berbagai perangkat digital, terkait dengan mereka yang minim kapasitas, juga akan sangat berpengaruh pada pembelajaran. Guru harus kreatif dalam model pembelajaran ataupun penugasan agar siswa tidak jenuh. Semua harus berdaptasi dengan teknologi.

Pada dasarnya setiap warga negara berhak atas pendidikan yang berkualitas. Bagi Sekolah Stella Maris, yang selalu mengedepankan mutu layanan terbaik dari setiap jenjang pendidikan, menggabungkan dua model pembelajaran (blended learning), tatap muka di kelas dan daring (online) bukanlah persoalan yang merisaukan. Fleksibilitas dan adaptasi yang cepat dari semua satuan pendidikan di Sekolah Stella Maris menjadi modal utama bersiap menyambut normal baru dunia pendidikan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *